Belajar Rahasia Kesuksesan dari Viralnya Mixue, Sang Pencatat Ruko Kosong

Cafebuku.com – ” Hati-Hati … pikiran jangan kosong …nanti dijadiin gerai Mixue ..! ”

Ya ya ya .. di tahun 2023 ini siapa tidak kenal Mixue ? hampir di setiap tikungan kita bisa menemukan gerai Mixue, sampai-sampai netizen mengatakan Mixue sebagai pencatat ruko kosong.

Sedang viral dan “menjajah” kemana-mana termasuk masuk ke menu kondangan, gimana sih sebetulnya sejarah awal terciptanya bisnis Mixue ??

Yuk ikuti  ceritanya di halaman ini ..

Sejarah Berdirinya Mixue

Mixue Ice Cream & Tea didirikan oleh Zhang Hongchao dengan bermodalkan uang pinjaman dari sang nenek.

Hingchao memulai bisnisnya ketika masih berstatus sebagai mahasiswa tahun keempat. Ia meminjam uang ke neneknya sebesar 4000 yuan atau sekitar Rp 7 juta untuk memulai bisnis pada 1997.

Setelah lulus kuliah, ia menemukan tempat yang tepat dikampung halamannya di Zhengzhou dan memulai mendirikan bisnis es serutnya. Tak berjalan mulus toko pertamanya gagal hingga harus ditutup. Setahun berikutnya ia memulai kembali dengan nama Mixue Bingcheng.

Saat ini, Mixue Ice Cream & Tea telah memiliki lebih dari 20.000 gerai di Tiongkok dan lebih dari 500 gerai internasional, termasuk di Indonesia. Perusahaan yang bermarkas di Zhengzhou, Henan, Tiongkok, ini mulai memperluas jangkauannya ke Asia Tenggara pada 2018. Selain di Indonesia, gerai-gerai tersebut tersebar di Filipina, Malaysia, Singapura, dan Vietnam.

Di Indonesia, Mixue Ice Cream & Tea mulai mendirikan pada 2020 gerainya di pusat perbelanjaan Cihampelas Walk (Ciwalk) di Bandung, Jawa Barat.

Apa sih rahasia kesuksesan Mixue sehingga bisa membuka banyak sekali gerai dalam waktu singkat ?

Dilansir dari @cnbcindonesia, di negara asalnya, Mixue termasuk pemain kunci minuman kekinian yang telah meraup pendapatan besar, kini menjadi perusahaan dengan valuasi sebesar US$30 miliar atau sekitar Rp45 triliun.

Merek yang lahir pada 1997 ini mengambil pendekatan dengan fokus menembus pasar di kota tier 3/4 melalui strategi harga murah.

Harga produk Mixue sendiri rata-rata US$ 0,4-US$ 1,5 atau sekitar Rp 6 ribu- Rp 22 ribu. Ini yang membuat Mixue dengan cepat menarik banyak minat pelanggan.

Pelanggan yang terus berdatangan mendorong jaringan waralaba Mixue berkembang pesat. Makin banyak jaringan, berarti makin banyak pasar yang digarap dan makin banyak pelanggan yang digaet.

Ini sekaligus membuat merek Mixue menjadi top of mind tanpa biaya pemasaran yang terlalu besar.

Harga yang murah kemudian mendongkrak volume penjualan perusahaan sehingga Mixue bisa membeli bahan baku dalam volume besar dengan harga yang lebih murah.

Mixue kemudian menekan biaya produksi lebih rendah lagi dengan membangun rantai pasokan sendiri dan mengelola sendiri proses produksi bahan baku, pergudangan, dan logistik.

Karena franchise makin banyak, Mixue memiliki kapasitas untuk membangun tempat pelatihan untuk menyempurnakan manajemen dan sistem operasinya.

Seperti untuk menyediakan dukungan efektif dari pemilihan toko, renovasi toko, pelatihan staf, manajemen toko, pemeliharaan perangkat lunak dan perangkat keras toko. Sistem yang mereka buat jelas menarik lebih banyak peminat waralaba.

Manajemen dan sistem operasi yang andal ini lah yang kemudian membuat waralaba Mixue mampu mempertahankan volume penjualan perusahaan tetap tinggi.

Nah, tertarik meniru konsep bisnis Mixue atau malah mau buka gerai franchise Mixue juga ?
Jangan lupa siapkan ruko kosongnya ya 🙂