Siapa Sangka ? Ternyata Harley Davidson Pernah Gagal Gara-Gara Ini …

Cafebuku.com – Ya, siapa tidak kenal dengan nama Harley Davidson ?

Identik dengan moge yang serba macho dan maskulin, rupanya perusahaan sepeda motor Harley-Davidson pernah mencoba merilis produk parfum sendiri pada tahun 1996.

Sayangnya, produk ini kemudian termasuk dalam salah satu produk gagal dan bahkan masuk dalam koleksi unik museum produk-produk gagal yaitu Museum of Faillures yang berada di Swedia.

Kenapa bisa gagal ? bukankah brand Harley-Davidson sudah sangat kuat dengan loyalitas sangat tinggi ?

Dikutip dari sumber Bedah Brand, kegagalan ini disebabkan brand identity-nya yang kurang cocok dengan produk parfum.

Apa itu Brand Identity ?

Dilansir dari 99designs, brand identity merupakan kumpulan semua elemen yang diciptakan perusahaan untuk menggambarkan citra yang tepat bagi konsumennya. Saat sebuah brand sudah memiliki brand identity yang kuat pasti akan mudah dikenali oleh banyak orang. Bahkan, mereka bisa menjadi sangat loyal karena telah memiliki persepsi yang baik terhadap brand tersebut.

Jadi, selain menjadi pembeda dari kompetitor, brand identity juga dapat menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan oleh perusahaan untuk meningkatkan customer loyalty.

Dalam studi kasus di produk parfum Harley Davidson ini, sebagai pembuat moge brand Harley-Davidson tentunya sangat kuat dengan persepsi gagah dan macho. Namun kemudian malah menjual produk parfum.

Saat Harley Davidson menjual t-shirt, sarung tangan, jaket dan sebagainya, orang masih menganggap itu sebagai aksesoris motor dan merchandise. Namun parfum adalah produk yang terlalu jauh dari brand identity-nya.

Menambah Jenis Produk Bukan Berarti Penjualan Akan Bertambah

Harley-Davidson dinilai jatuh ke dalam jebakan ini.

Sementara jika diamati, semakin kuat nilai sebuah brand, biasanya semakin sedikit range produk yang mereka jual.

Selain itu Harley-Davidson juga dinilai kurang peka dengan audience atau customer loyalnya.

Saat launching Harley-Davidson menempatkan parfumnya sebagai produk yang maskulin dan target marketnya adalah pria. Padahal ternyata banyak juga customer Harley-Davidson yang wanita.

Loyalitas Juga Ada Batasnya

Ya, meskipun pelanggan Harley Davidson merupakan fans yang dikenal sangat loyal, namun mereka merasa keberatan jika harus membelanjakan uangnya untuk produk parfum Harley-Davidson. Dalam hal ini mereka merasa Harley Davidson terlalu “disneyfying” atau apa-apa dijual pake nama brand-nya.

Pada akhirnya produk ini gagal di pasar dan akhirnya tak diproduksi lagi.

Pelajaran menarik yang bisa diambil dari cerita bisnis ini adalah bahwa ketika brand kita sudah menjadi brand yang powerfull, maka sebaiknya berhati-hati dalam membuat perluasan produk.

Sebuah quote yang dikutip untuk studi kasus ini adalah :

“Brand loyalty is the holy grail for business. Testing that loyalty, can however, be dangerous”

Semoga bermanfaat.

Pindar @Cafebuku.Com
Media Informasi Buku, Bisnis & Inspirasi

Ikuti juga yuk media-media online Cafebuku untuk mendapatkan update terbaru seputar buku, bisnis dan inspirasi :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *